Home / Ulama / AaGym / Selalu Memuji Allah
Allah

Selalu Memuji Allah

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah Saw bersabda, Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah”.” (HR. Tirmidzi).

 

Sakit adalah hal yang dirasakan oleh setiap orang. Namun, tentu tidak akan selamanya sakit melanda seseorang. Akan tiba saatnya kesembuhan. Terus berputar silih berganti. Untuk yang sedang sakit, maka bersabarlah. Untuk yang tidak sakit atau sudah sembuh dari sakit, maka bersyukurlah. Jika dibanding-bandingkan antara sakit dan tidak sakit pada diri seseorang, rata-rata lebih banyak mana? Tentu lebih banyak tidak sakitnya. Apalagi jika dibandingkan dengan karunia yang diberikan Allah Swt kepadanya.

 

Ketika seseorang sedang mengalami sakit gigi misalnya. Bersabarlah. Sakit gigi memang sakit yang sangat memancing emosi dan paling dramatis. Sakitnya sulit diceritakan dan jarang menjadi alasan untuk orang lain menjenguknya. Padahal betapa sangat tidak mengenakkan sakitnya.

 

Saat sakit melanda, ingatlah Allah dengan ucapan “Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.” (Sesungguhnya milik Allah segala sesuatu dan kepada-Nya segala sesuatu akan kembali). Sedangkan jika sudah sembuh atau tidak sakit, ingatlah Allah dengan mengucapkan, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ad Dailami diterangkan bahwa barangsiapa yang membiasakan berdzikir dengan mengucap kalimat “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin” saat mendapatkan kebaikan, dan mengucap “Innalillahi wa inna ilaihi raajiun” ketika ditimpa musibah, maka Allah Swt akan membangunkan rumah di surga untuknya. Allah Swt pun akan menaunginya dengan cahaya-Nya yang agung.  

 

Sebagai bukti keagungan Allah Swt, bahkan di dalam keadaan sakit pun banyak hal yang bisa kita syukuri. Allah Swt berfirman,

 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah [94]: 5-6).

 

Para ahli tafsir menjelaskan bahwasanya kata “Al-’Usri” menggunakan alif lam ma’rifah, yaitu mengandung arti “satu kesulitan”. Sedangkan kata “Yusran”  menggunakan isim nakirah, yaitu sesuatu yang tidak terbatas dan berarti “beberapa kemudahan” atau “banyak kemudahan”. Jadi, makna ayat tersebut adalah “Maka sesungguhnya bersama satu kesulitan ada beberapa kemudahan”. Kemudahan itu selalu lebih banyak daripada kesulitan.

 

Sesungguhnya di dalam sakit itu terdapat banyak sekali rahasia Allah Swt. Jika kita merujuk kepada ayat di atas, sesungguhnya ketika kesulitan menimpa seseorang, maka ketika itu juga kemudahan-kemudahan atau kebaikan-kebaikan datang kepadanya. Sementara selama ini banyak sekali yang memahami bahwa kemudahan itu akan datang ‘setelah’ kesulitan. Padahal, kesulitan itu senantiasa datang ‘beriringan’ atau ‘berbarengan’ dengan kemudahan-kemudahan.

 

Sedangkan orang yang putus asa, tidak bersyukur atau bersikap kufur di kala sakit atau saat dihimpit kesulitan, ia malah akan sibuk mendramatisir keadaan dirinya atau kesulitannya sehingga ia tidak bisa melihat kemudahan-kemudahan di balik kesulitannya itu. Padahal sebagaimana firman Allah Swt di atas, bahwa ketika Allah menciptakan kesulitan bagi seorang hamba, maka bersama kesulitan itu Allah ciptakan juga kemudahan-kemudahan yang sangat mungkin kemudahan-kemudahan itu tidak bisa diraih apabila kesulitan itu tidak datang.

 

Ada orang yang sedang dililit utang. Hingga waktu jatuh tempo ia belum juga bisa melunasi utangnya. Ia mengeluh dengan dilengkapi kepanikan karena detik-detik jatuh tempo itu sudah semakin dekat. Namun, apa yang terjadi saat waktu jatuh tempo itu terlewati? Ia bersikap biasa-biasa saja. Bahkan ada rasa lega setelah melewati waktu tersebut meski utangnya pun belum bisa ia lunasi. Ini gambaran sederhana, ada kelapangan di dalam kesempitan.

 

Dalam banyak kasus, ada orang-orang yang mengalami masa-masa sulit, namun justru masa-masa sulit itu yang mendorongnya untuk bergerak mencari keteduhan jiwa dan kelapangan hati melalui forum-forum pengajian. Banyak orang-orang yang tersadar untuk lebih mendekat kepada Allah di kala dirinya berada dalam situasi mencekam. Banyak orang yang bertaubat ketika ia berada di tengah situasi yang sangat sesak. Banyak orang yang semakin bisa merasakan kehadiran Allah Swt manakala dirinya ada di dalam keadaan yang sangat pelik. Padahal ketika berada di dalam situasi yang mudah dan lapang, belum tentu ia tersadar atau teringat kepada Allah Swt.

 

Kesulitan dalam kacamata hawa nafsu itu nampak sebagai beban. Akan tetapi di dalam sudut pandang ma’rifatullah, kesulitan itu adalah jalan bebas hambatan menuju kedekatan dengan Allah Swt. Orang-orang yang senantiasa bersemangat mendekat kepada Allah akan memandang bahwa kesulitan itu adalah bagaikan hari raya. Karena di sanalah mereka bisa mendapatkan energi yang sangat besar yang bisa menggerakkan mereka untuk semakin dekat dengan Allah Swt. Hal ini bisa terjadi dengan sikap ridha dan syukur terhadap Allah Swt ketika kesulitan itu datang menerpa.

 

Syukurilah kesulitan yang datang menimpa kita. Karena sangat mungkin Allah Swt menurunkan kesulitan tersebut dengan maksud untuk menarik kita supaya lebih dekat dengan-Nya. Karena barangkali kelapangan dan kemudahan malah melenakan kita dan menjauhkan diri kita kepada Allah Swt. Pujian dan sanjungan membuat kita lupa diri. Ketika kita mendapat sanjungan dan pujian, yang banyak terjadi adalah kita merasa kegeeran. Merasa diri memang layak dipuji dan lupa bahwa pujian hanyalah milik Allah Swt.

 

Sehingga Allah Swt turunkan kepada kita kesulitan berupa hujatan dan cacian dari orang lain terhadap kita. Kesulitan itu kemudian membuat kita mengevaluasi diri sendiri dan menyadarkan kita untuk lebih mendekat kepada Allah. Pada kejadian seperti ini, hal yang penting bukanlah kesulitan berupa hujatan dan cacian, melainkan kesempatan kita untuk semakin dekat dengan Allah Swt.

 

Kesulitan dan kepahitan itu adalah hal yang niscaya, pasti kita akan mengalaminya di dalam hidup kita. Jalani saja, hadapi saja kesulitan dan kepahitan itu. Syukurilah kepahitan dan kesulitan yang datang. Karena itu artinya kita akan mendapat banyak sekali perlajaran dan kemudahan. Banyak sekali rahasia Allah Swt yang akan terungkap setelah kita lewati kesulitan dan kemudahan yang menimpa diri kita.

 

Syukurilah kesulitan yang menimpa kita. Syukurilah kemudahan yang dianugerahkan kepada kita. Selalulah memuji Allah Swt di dalam setiap apapun keadaan kita

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Comments

comments

About AndySyauqi