Home / Ulama / AaGym / Pantang Berkeluh Kesah
berkeluh kesa

Pantang Berkeluh Kesah

Segala puji hanya milik Allah Swt. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Rasulullah Saw.

Saudaraku, hidup di kota besar perlu kekuatan iman dan mental. Kemacetan adalah rutinitas yang sering kita hadapi. Tak heran bila untuk sebuah perjalanan saja, kalau kita tidak memakai strategi yang cermat, maka kemacetan akan benar-benar menyita waktu. Dan, jika tidak berusaha mengendalikan hati, maka kita berpotensi untuk berkeluh kesah, “Aduh , kapan sampainya ini! Aduh, kok lama banget! Aduh, kok macet terus!”

Keluh kesah tidak menyelesaikan masalah. Ungkapan-ungkapan seperti itu menunjukkan ketidaksabaran kita. Belum lagi jika tiba-tiba ada kendaraan lain berhenti seenaknya yang membuat kita marah-marah dan membentaknya.

Daripada marah dan membentak, akan lebih baik jika kita menyapa dengan baik, “Maaf, Pak! Boleh agak ke pinggir sedikit?!” Ungkapan seperti ini akan lebih ringan dan produktif, daripada melotot apalagi menggunakan otot.

Kedongkolan memancing keluh kesah dan jika sudah terlalu sering, bisa membuat diri jadi emosional. Ini sangat merugikan, baik bagi kita maupun orang lain. Padahal jika kita jeli, waktu-waktu yang tersita karena macet seperti itu bisa jadi kesempatan untuk menambah ilmu. Misalnya, bisa dimanfaatkan untuk memutar rekaman ceramah atau muratal Al Quran.

Tentu hal seperti ini akan lebih produktif dan membuat perjalanan kita berkah. Daripada berkeluh kesah dan mengumpati keadaan, akan lebih baik jika kita isi dengan doa, “Ya Allah, semoga saya datang tepat waktu, semoga ada jalan keluar dari kemacetan ini”.

Marilah kita meminimalisir berkeluh kesah. Mari kita latih diri untuk bisa merespon keadaan dan menghadapi orang lain secara santun. Kesantunan akan membuat batin lebih lapang. Kesantunan akan mampu menaklukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan kekerasan. Karena, kalau orang-orang keras dilawan dengan kekerasan, maka itu akan merasa bagian dari dunianya. Tapi, kalau orang-orang yang bertemperamen keras itu diberi kelembutan yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam, InsyaaAllah mereka akan terbawa lembut juga. Contohnya, orang sekeras Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid bisa jatuh tersengkur menagis oleh lembutnya lantunan Al Quran.

Berkeluh kesah seringkali membuat kita terdramatisasi oleh masalah. Seakan-akan rencana dan keinginan kita lebih baik daripada yang terjadi. Padahal, belum tentu. Siapa tahu, di balik kejadian yang mengecewakan menurut kita, ternyata sarat dengan perlindungan Allah Swt.

Allah Swt. berfirman, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2] : 216).

Allah menolong kita dengan tuntunan-Nya. Tuntunan itu tidak selalu dengan terkabulnya keinginan kita. Karena Allah Mahatahu di balik apapun keinginan kita. Baik keinginan jangka pendek, maupun jangka panjang. Kita tidak bisa mendeteksi secara cermat. Kadang-kadang kita hanya mendeteksinya sesuai dengan hawa nafsu kita.

Berkeluh kesah seperti nampak sepele. Tetapi, itu akan menjadi tolak ukur kualitas pengendalian diri kita. Ketahuilah bahwa kualitas seseorang itu tidak diukur dengan hal yang besar-besar, tetapi oleh yang kecil-kecil. Kalau kita ingin melihat suatu komplek perumahan yang berkualitas, maka cukup kita lihat saja rumput di halamannya. Kalau komplek itu berkualitas baik, maka rumputnya pun akan nampak terawat dengan baik.

Marilah kita respon setiap kejadian demi kejadian dengan respon yang positif. Mengapa? Karena setiap respon akan mempengaruhi persepsi kita terhadap masalah yang kita hadapi dan cara kita menyelesaikannya. Lebih dari itu, akan berdampak pula kepada orang-orang di sekitar kita. Jadi, sapaan-sapaan, teguran-teguran, komentar-komentar, celetukan-celetukan harus benar-benar bernilai produktif. Tidak hanya berarti bagi diri kita, tetapi juga bagi orang di sekitar kita.

Apalagi berkeluh kesah termasuk penyakit hati, bentuk ketidaksabaran kita dalam menerima ketentuan dari Allah. Ada hadits qudsi yang menyatakan bahwa “Barang siapa yang tidak ridha terhadap ketentuan-Ku, dan tidak sabar atas musibah dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Editor : Rashid Satari

 

Website ini didukung oleh House Of Leather dan Shareefa.co.id

Comments

comments

About AndySyauqi