Home / Ulama / AaGym / Hijrah dari Perkara Haram Kepada yang Halal
hijrah

Hijrah dari Perkara Haram Kepada yang Halal

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh, dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim)

 

Saudaraku, perhatikan bagian-bagian tubuh kita ini, terutama panca indera. Perhatikan mata kita. Apakah ia masih terlena untuk melihat hal-hal yang tidak halal baginya. Apakah ia masih terbiasa asyik melihat hal-hal yang haram untuknya. Hijrahkanlah. Latihlah mata kita agar terbiasa untuk gudhulbashar atau menghindarkan pandangannya dari hal-hal yang tidak halal baginya. Latihlah mata kita hingga ia akhirnya menjadi terbiasa secara refleks menghindarkan pandangannya dari hal-hal yang haram dilihat.

 

Demikian juga dengan telinga kita. Perhatikanlah, apakah ia masih terbiasa mendengar urusan-urusan yang tidak halal baginya. Masihkah ia merasa asyik mendengar pembicaraan tentang aib atau kejelekan orang lain, ghibah dan gunjingan-gunjingan. Jika ya, maka segera hijrahkanlah telinga kita. Karena, bahkan tidak sengaja saja mendengar pembicaraan seperti itu, itu sudah cukup untuk mengotori hati. Tidak sengaja saja sudah seperti ini resikonya, maka orang yang kesenangannya membicarakan kejelekan orang lain, maka busuklah hatinya.

 

Ada satu cerita tentang seorang guru dengan seorang muridnya. Sang guru meminta agar sang murid menyimpan tomat busuk di dalam tas ranselnya dan senantiasa tetap membawanya kemanapun juga selama tiga hari. Kemudian, sang guru bertanya kepadanya tentang apa yang dia rasakan selama tiga hari itu. Sang murid menjelaskan dengan penuh nada kesal bahwa tidurnya jadi tidak nyaman, makan pun demikian gara-gara aroma tak sedap yang ditimbulkan tomat busuk itu. Nah, jika efek yang ditimbulkan tomat busuk saja sedemikain rupa, maka apalagi efek yang ditimbulkan oleh hati yang busuk.

 

Apakah yang menyebabkan hati busuk? Sebabnya adalah input yang ia peroleh adalah input yang busuk-busuk. Input itu masuk ke dalam hati lewat celah jendela penglihatan, pendengaran dan indera lainnya.

 

Jika ada orang yang datang kepada kita kemudian menceritakan kejelekan-kejelekan orang lain kepada kita, maka siap-siap saja kejelekan kita yang akan diceritakan kepada orang lain. Latihlah diri untuk selalu menolak dan menghindari pembicaraan tentang kejelekan orang lain. Jika kejelekan orang lain yang dibicarakan itu memang benar apa adanya, maka itu adalah kubangan ghibah. Sedangkan jika kejelekan orang lain yang dibicarakannya itu adalah tidak benar, maka itu adalah jebakan fitnah.

 

Selain memeriksa panca indera kita, periksalah juga harta kekayaan yang kita miliki. Sudahkah harta kekayaan kita bersih dari unsur-unsur haram atau belum. Karena sesungguhnya harta haram atau harta yang diperoleh dengan cara yang haram, meskipun hanya sedikit saja, itu merupakan racun bagi kita. Apalagi jika harta haram itu kemudian kita berikan kepada anak, istri dan keluarga kita, maka sesungguhnya kita telah meracuni mereka.

 

Jika kita yakin dengan sungguh-sungguh bahwasanya rezeki seluruh makhluk ini sudah dijamin oleh Allah Swt, maka kita tidak akan tergiur untuk mencari yang haram. Bukankah makhluk lain yang tidak berakal pun terjamin rezekinya. Ikan paus misalnya, yang dalam satu hari saja membutuhkan setidaknya satu setengah ton makanan, itu tercukupi rezekinya. Maka, apalagi manusia, makhluk yang dilengkapi dengan akal pikiran. Apalagi kita yang senantiasa berupaya meningkatkan kualitas keimanan kepada-Nya.

 

Jika kita yakin dengan sungguh-sungguh bahwasanya rezeki seluruh makhluk ini dijamin oleh Allah Swt, maka kita akan mengindari perbuatan mencuri, kita akan menjauhi praktik korupsi. Karena untuk apakah mencuri dan korupsi jika rezeki kita sudah dijamin oleh Allah Swt. Mencuri itu adalah tanda kebodohan. Korupsi itu adalah tanda kurang iman. Jika kita yakin dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt, maka jalan yang akan kita tempuh adalah bekerja secara halal untuk menjemput rezeki-Nya

 

Lebih aneh lagi jika pelaku korupsi adalah seseorang yang sudah berusia senja. Untuk apa sebenarnya ia melakukan korupsi? Toh harta yang berhasil ia kumpulkan pun tak akan bisa ia nikmati. Apalagi jika kesehatannya sudah semakin menurun. Makanannya sudah banyak pantangan karena masalah kolesterol dan gula darah misalnya. Harta hasil korupsi itu selain tidak akan berkah dan menimbulkan dosa, juga malah memicu malapetaka.

 

Apa artinya harta kekayaan itu jika hanya menjadi sumber persengketaan bagi anak-anaknya karena urusan warisan. Apalah juga arti harta kekayaan itu jika kemudian disita kembali oleh negara dan menimbulkan kesengsaraan bagi anak-anaknya. Harta kekayaan yang diperoleh dengan cara haram itu tak ada manfaatnya sama sekali dan hanya menimbulkan malapetaka belaka.

 

Sama sekali tidak ada satupun alasan untuk korupsi. Tak ada harta sekeping pun yang akan dibawa mati. Kain kafan yang membalut jasad pun hanya akan lapuk dan hancur dimakan serangga dan cacing di dalam tanah. Jangan pernah simpan sedikitpun harta haram. Segera kembalikan kepada tempat yang semestinya. Harta haram hanya menimbulkan kegelisahan dan ketakutan pada diri sendiri. Harta haram hanya akan jadi racun yang akan mencelakakan diri sendiri.

 

Ada satu paradigma keliru yang merebak di tengah-tengah masyarakat kita. Yaitu bahwa mencari harta haram saja susah, apalagi mencari harta yang halal. Inilah paradigma yang harus diubah karena paradigma ini adalah salah kaprah. Sepatutnya kita meneladani apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Saw manakala firman Allah Swt mengenai pengharaman khamr atau minuman keras.

 

Ketika itu, pengharaman khamr dilakukan secara berangsur-angsur, tidak sekaligus. Tatkala ayat terakhir tentang pengharaman khamr ini turun, dengan penuh antusias dan kepatuhan, para sahabat membuang khamr. Peristiwa ini terjadi di kota Madinah. Dalam satu keterangan disebutkan bahwa khamr yang dibuang itu hingga menggenangi jalan-jalan di kota Madinah.

 

Segala perkara haram sudah jelas diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk tidak dilakukan atau tidak dikonsumsi. Bahkan, didekati pun tidak boleh. Bahkan pula, jangankan yang haram, hal-hal yang mengarah kepada haram atau samar (syubhat) pun dilarang untuk didekati. Sedangkan perintah Rasulullah Saw adalah untuk dipatuhi.

 

Rasulullah Saw bersabda, “Jika aku memerintahkan sebuah perkara kepada kalian, lakukanlah dengan segala kemampuan kalian. Dan apa-apa yang telah aku larang kalian mengerjakannya, maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim)

 

Sahabatku, semoga kita tidak tergolong golongan manusia yang enggan untuk dimasukkan ke dalam surga. Siapakah golongan manusia tersebut? Rasulullah Saw bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah,siapakah orang yang enggan ?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang melanggar perintahku maka dia enggan masuk surga.” (HR. Bukhari).

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Comments

comments

About AndySyauqi