Home / Ulama / AaGym / Hijrah dari Lingkungan yang Tidak Kondusif Untuk Beribadah Kepada Lingkungan yang Menguatkan Iman
hijrah

Hijrah dari Lingkungan yang Tidak Kondusif Untuk Beribadah Kepada Lingkungan yang Menguatkan Iman

Setiap dari kita berbeda-beda kadar kekuatan imannya. Ada orang yang sekali saja mendapat hinaan dan makin dari orang lain, maka ia langsung merasa rendah diri dan merasa hina. Ada orang yang sekali mendapatkan cacaian dan makian, ia langsung marah dan sangat murka. Namun, ada juga orang yang berkali-kali dihina dan dimaki, namun ia tetap tenang, menahan amarah dan bersabar.

 

Penting bagi kita untuk mengukur kekuatan diri sendiri. Hal ini adalah supaya kita tidak terseret kepada situasi yang rusak di lingkungan kita. Alangkah lebih baik lagi jika kitalah yang justru bisa mewarnai lingkungan kita dengan kebaikan.

 

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan

teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang

pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena

kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau

wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap”. (HR. Bukhari Muslim).

 

Hadits ini berlaku untuk hubungan kita dengan teman atau dengan suatu lingkungan. Ukurlah diri kita. Sekiranya kita berada di tengah satu lingkungan yang tidak baik dan kita kuat untuk memberikan pengaruh kebaikan, maka bertahanlah di sana. Sebaliknya, jika di dalam lingkungan tersebut malah kita yang ikut tergerus kepada kemaksiatan, maka segeralah pindah. Segera berhijrahlah.

 

Lantas, teman atau lingkungan seperti apakah yang semestinya kita cari sebagai tempat kita berhijrah? KH. Jalaluddin Asy Syatibi menjelaskan bahwa ada lima tipe teman atau lingkungan. Kelima lingkungan itu adalah,

 

  1. Teman atau lingkungan yang bisa menjadi guru ibadah. Milikilah teman atau tinggallah di lingkungan yang bisa menambah kadar keimanan kita kepada Allah Swt. Milikilah teman atau tinggallah di dalam lingkungan yang bisa menambah kualitas keyakinan kita kepada Allah Swt. Tipe ini adalah teman yang baik atau lingkungan yang baik pula untuk ditinggali. Jika sulit mencari teman atau lingkungan seperti ini, simaklah tipe berikutnya.

 

  1. Teman atau lingkungan yang bisa dijadikan teman untuk berbadah. Ini adalah teman atau lingkungan yang tidak begitu banyak ilmunya, namun selalu bersemangat untuk mencari ilmu dan semangat untuk beribadah. Jika masih juga sulit mencari teman atau lingkungan seperti ini, lihat tipe berikutnya.

 

  1. Teman atau lingkungan yang bisa dijadikan murid ibadah. Teman atau lingkungan seperti ini mungkin tidak bisa mengajak, akan tetapi mau untuk belajar menjadi semakin baik. Jika masih juga sulit mencari tipe seperti ini, carilah tipe selanjutnya.

 

  1. Teman atau lingkungan yang tidak bisa menjadi guru ibadah, tidak bisa jadi teman ibadah, tidak bisa jadi murid ibadah, tapi ia tidak mengganggu kita saat melakukan ibadah. Dan jika tipe ini masih sulit ditemui, cukup hindarilah teman atau lingkungan dengan tipe berikut ini,

 

  1. Ini adalah tipe teman atau lingkungan yang tidak baik untuk didekati atau ditinggali. Yaitu teman atau lingkungan yang sangat kuat mempengaruhi kita untuk jauh dari ibadah atau melemahkan iman. Atau teman atau lingkungan yang diam-diam menyeret kita kepada kelalaian dan kemunafikan.

 

Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan lingkungan yang membuat kita tidak semakin yakin terhadap Allah Swt. Kita harus punya keberanian untuk berhijrah, pergi meninggalkan lingkungan yang malah menjerumuskan kita kepada kemaksiatan, kemunafikan atau kekufuran.

 

Jangan ragu untuk keluar dari tempat kerja yang didominasi oleh perbuatan-perbuatan dosa yang tidak mampu kita lawan atau kita perbaiki. Jika takut kehilangan penghasilan, yakinlah sesungguhnya Allah Swt Maha Penjamin Rezeki. Jika orang kafir saja dijamin rezekinya, apalah lagi kita yang mengimani Allah Swt dan senantiasa berupaya menghindari kemaksiatan dan dosa.

 

Tentu kita masih ingat saat krisis ekonomi beberapa tahun yang lalu. Ribuan karyawan di berbagai perusahaan ditimpa kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Apakah PHK itu kemudian menjadi akhir dari hidup mereka? Tidak! Mereka tetap hidup. Meski sempat terkejut, sedih, kecewa, akan tetapi hidup berjalan terus. Malah tidak sedikit dari mereka yang kemudian semakin tangguh menjalani hidup setelah PHK tersebut. Tidak sedikit mereka yang setelah mengalami keterpurukan PHK itu kemudian bangkit sebagai wirausaha yang sukses. Atau tidak sedikit juga mereka yang mendapatkan tempat pekerjaan baru yang lebih menentramkan dirinya.

 

Orang yang kehilangan pekerjaan karena PHK saja masih mendapatkan rezeki, apalah lagi orang yang mengundurkan diri dari tempat kerjanya demi menjauhi kemaksiatan dan demi tetap berpegang teguh kepada Allah Swt. Bukanlah hal yang sulit bagi Allah Swt untuk melimpahkan rezeki kepada orang yang berupaya setia kepada-Nya.

 

Simaklah kembali pengorbanan Rasulullah Saw bersama para sahabat yang rela meninggalkan tanah kelahirannya, Mekkah, ke Madinah. Meski berat dilakukan, mereka tetap menempuhnya. Terbukti, hijrah kemudian menjadi pintu gerbang bagi kaum muslimin kala itu untuk meraih kesuksesan besar yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

 

Hijrah pada dasarnya adalah bagaimana upaya kita untuk memperoleh keridhaan Allah Swt di dalam segala aspek kehidupan kita. Semangat hijrah adalah semangat kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan memberikan pengaruh kebaikan itu kepada orang lain dan lingkungan di sekitar kita.

 

Hijrah yang paling sederhana adalah menghijrahkan hati kita dari condong dan bersandar kepada makhluk, harta, kepada condong dan bersandar hanya kepada Allah Swt. Hijrah dari mengharap kepada makhluk, menjadi berharap hanya kepada Allah. Hijrah dari mendambakan sanjungan, pujian, penghargaan dari makhluk, kepada hanya mendambakan ganjaran dari Allah Swt.

 

Jika sudah demikian hijrah yang kita lakukan, niscaya Allah akan mencukupkan keperluan kita. Allah lebih mengetahui keperluan lahir batin kita dibandingkan diri kita sendiri. Jika kita sudah bertekad untuk melakukan hijrah, semoga itu menjadi gerbang kita menjadi manusia sukses yang bertauhid. Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Memiliki segala apa yang kita perlukan, dan Dia-lah Yang Maha Menentukan apapun yang terbaik untuk kita. Wallahua’lambishawab.

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Comments

comments

About AndySyauqi