Home / Ulama / AaGym / Hijrah dari Kemusyrikan Kepada Tauhid 
syekh rajab

Hijrah dari Kemusyrikan Kepada Tauhid 

 

Allah Swt berfirman, Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).

 

Hal paling prinsipil yang harus kita lakukan adalah berhijrah dari perbuatan kemusyrikan kepada tauhid. Hijrah dari menuhankan manusia kepada hanya menuhankan Allah semata, Dzat Yang Menciptakan manusia. Hijrah dari menuhankan harta kekayaan kepada hanya menuhankan Allah Swt semata Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki. Hijrah dari sikap menuhankan jabatan dan kedudukan kepada hanya menuhankan Allah Swt Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

Dialah Allah yang memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya. Allah Swt. berfirman, Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran [3]: 26).  

Bukan manusia, bukan pula harta. Bukan jabatan, kedudukan, bukan pula kekuasaan. Hanya Allah Swt satu-satunya yang patut dipertuhankan. Dialah Sang Pemilik segalanya dan Dialah pula yang memberikan rezeki dan kekuasaan serta mencabutnya dari manusia.

 

Tidak sedikit manusia yang berpikir bahwa gelar akan bisa menyelamatkannya. Gelar akan memberikan rezeki kepadanya. Gelar akan memberikan kedudukan untuknya. Gelar pula yang akan memberikan kebahagiaan kepadanya. Jika gelar sudah dipertuhankan oleh seseorang, maka dijamin hidupnya tidak akan tentram. Ia tidak akan memperoleh kesuksesan yang hakiki.

 

Gelar memang boleh disandang. Gelar juga baik untuk dimiliki. Namun, apabila gelar sudah dipandang sebagai sumber kemuliaan, sumber kesuksesan, sumber kebahagiaan, sumber kesejahteraan, ini adalah sikap yang keliru. Bagi seorang muslim, sesungguhnya tidak ada kemuliaan kecuali bersumber dari Allah. Tidak ada kesuksesan kecuali bersumber dari Allah. Tidak ada kesejahteraan kecuali datang dari Allah. Seorang muslim selalu meyakini bahwa dunia hanyalah fasilitas saja. Segala fasilitas di dunia ini adalah untuk dipergunakan dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

 

Allah Swt berfirman, Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al Baqarah [2]: 29).

 

Jelaslah bahwasanya Allah Swt menciptakan dunia dan seisinya adalah sebagai sarana untuk manusia. Atau sebagai pelayan untuk manusia. Sarana atau pelayan ini adalah untuk dipergunakan oleh manusia sebagai penunjang beribadah kepada Allah Swt.

 

Demikianlah susunan yang semestinya. Manusialah sang majikan sedangkan kekayaan duniawi adalah sarana dan pelayannya. Jangan sampai jadi terbalik, majikan diperbudak oleh sarana dan pelayannya. Jika ini terjadi, maka sungguh menjadi sangat hina dan rendahlah derajat sang majikan. Jika manusia diperbudak oleh hal-hal duniawi, maka menjadi rendah dan hinalah ia.

 

Bukti bahwa dunia dan seisinya ini hanya sarana dan pelayan saja adalah bahwa makanan hadir untuk menutupi rasa lapar. Pakaian hadir untuk melindungi tubuh dari cuaca. Obat-obatan hadir untuk memulihkan rasa sakit. Akan tetapi ketika manusia menuhankan dunia, maka kebahagiaan tak bisa diraihnya. Tidak heran jika kita banyak menemukan orang-orang yang kaya raya namun hidup di dalam kegelisahan dan tidak berbahagia.

 

Sesungguhnya dunia ini tiada berharga. Oleh karena itulah mengapa tak hanya orang-orang beriman, bahkan orang-orang pelaku kemaksiatan, dzalim, bergelimang dosa, dan pelaku kemusyrikan pun diberikan hal-hal duniawi. Yaitu seperti harta kekayaan, jabatan, gelar, pangkat, dan popularitas.             

 

Satu contoh. Seorang isteri shalehah yang ditinggalkan oleh suaminya untuk selama-lamanya. Sang ibu tersebut ditanya, “Bu, bagaimana selanjutnya, suami ibu meninggal dunia. Bagaimana dengan nafkah keluarga?” Kemudian, ibu tersebut menjawab, “Suami saya memang sudah tiada. Allah Swt Sang pemilik manusia, telah memanggilnya. Bukankan setiap kita juga akan kembali kepada-Nya. Adapun rezeki saya, bukanlah bersumber dari suami saya. Suami saya hanya perantara saja. Rezeki sesungguhnya bersumber dari Allah Swt. Suami saya memang telah tiada. Tapi, Allah Maha Ada dan akan selalu ada.”

 

Subhanallah! Simaklah ucapan ibu tersebut. Demikianlah sikap orang yang tidak mempertuhankan dunia. Ia akan tetap berpegang teguh kepada Allah di dalam situasi seberat apapun. Dia selalu yakin bahwa semakin berat keadaan yang menimpanya, maka semakin kuat ia berpegang kepada Allah Swt. Semakin sulit keadaan yang menimpanya, semakin kuat pula ia berdoa kepada-Nya. Semakin yakin bahwa hanya Allah Swt yang kuasa menolongnya.

 

Contoh lain, orang yang pecandu rokok. Mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar celetukan orang yang berbunyi, “Saya tidak bisa tenang kalau tak merokok!” atau, “Saya tak bisa kerja jika tidak ada rokok!” dan ungkapan-ungkapan sejenisnya. Demikianlah orang yang diperbudak oleh rokok. Demikianlah orang yang menuhankan rokok. Ia menganggap bahwa rokok adalah sumber yang bisa memberikan ketenangan dan kesenangan baginya. Rokok telah jadi berhala baginya. Sehingga ia lebih rajin dan lebih ridha ‘bersedekah’ demi rokok daripada bersedekah demi mengharap ridha Allah Swt. Orang yang demikian, akan mengalami penderitaan yang disebabkan oleh rokok.

 

Ada juga orang-orang yang menuhankan organisasinya, partai politiknya, tim sepak bola di kotanya, atau calon kepala daerah idolanya. Bahkan mereka rela meski harus menunjukkan dukungannya dalam bentuk cap jempol darah. Ada lagi yang lebih parah, yaitu mereka yang rela menjadi pasukan berani mati demi mendukung seseorang yang diusungnya.

 

Tidak sediki manusia yang tertipu dengan dunia. Mereka loyal kepada sesuatu yang sama sekali tidak mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. Maka, berhijrahlah, dari loyalitas kepada sesuatu yang tidak membuat kita dekat dengan Allah Swt, kepada loyalitas terhadap sesuatu yang membawa kita semakin yakin terhadap-Nya. Berhijrahlah dari sikap mengharap pertolongan kepada makhluk, mempercayai mantra, jimat, kepada hanya mengharap pertolongan dari Allah Swt melalui doa. Berhijrahlah dari sikap ingin dipuji dan disanjung oleh manusia, kepada sikap ingin dinilai dan diridhai oleh Allah Swt semata.

 

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Comments

comments

About AndySyauqi