Home / Ulama / AaGym / Hijrah dari Kemunafikan Kepada Shiddiq
hijrah

Hijrah dari Kemunafikan Kepada Shiddiq

Di dalam Al Quran terdapat satu surat yaitu surat Al Munafiqun yang khusus mengulas tentang orang-orang yang munafik. Ini menunjukan betapa kemunafikan sangat diperhatikan di dalam Islam, dan harus diperhatikan oleh orang-orang beriman.

 

Di dalam surat tersebut Allah Swt berfirman, Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah“. Dan, Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS. Al Munafiqun [63]: 1-3).

 

Ayat tersebut di atas menjelaskan tentang karakterisik orang-orang munafik. Diantaranya adalah pertama, bahwa mereka merupakan orang-orang yang penuh dengan kebohongan. Apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Jika mereka mengakui suatu kebenaran, maka tidak demikian dengan isi hatinya.

 

Karakter kedua, mereka terbiasa menyatakan sumpah palsu dan bohong. Hal ini mereka lakukan sebagai tameng untuk menyelamatkan diri dan harta mereka agar mereka tidak dimusuhi oleh kaum kafir, dan saat kaum muslimin mendapat kemenangan, mereka berharap mendapat keuntungan. Perbuatan mereka yang seperti ini sangat kentara terlihat di zaman Rasulullah Saw.

 

Ketiga, sebagaimana ayat di atas adalah bahwa mereka gemar menghalang-halangi manusia dari melakukan ketaatan atau peribadatan kepada Allah Swt. Mereka juga menghalang-halangi manusia untuk memeluk Islam.

 

Keempat, mereka memiliki amal perbuatan yang buruk karena mereka mengotori keimanan dengan kekufuran. Mereka pun menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.

 

Kelima, mereka memiliki kebusukan hati. Hati mereka menolak kebenaran, meskipun lisan mereka mengakui. Buruknya hati mereka menyebabkan hidayah tidak masuk kepadanya.

 

Selain karakter-karakter di atas, surat Al Munafiqun juga masih memberi kita penjelasan tentang karakteristik lainnya dari orang yang munafik. Allah Swt berfirman, Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (QS. Al Munafiqun [63]: 4-5).

 

Keenam, mereka berpenampilan menarik, akan tetapi batin mereka rusak. Penampilan bisa menipu orang lain yang melihatnya. Akan tetapi, sesungguhnya penampilan yang menarik tersebut hanyalah tipu daya belaka. Dalam ayat di atas, mereka digambarkan seperti kayu yang tersandar yang berarti sangat rapuh dan goyah, sangat mudah ambruk. Mereka pandai berbicara dan bersilat lidah, padahal jiwa mereka kosong.

 

Ketujuh, mereka bertutur kata manis, akan tetapi memiliki maksud yang buruk. Tutur kata yang mereka ungkapkan bisa memikat siapa saja yang mendengarnya. Bahkan bisa sangat meyakinkan siapa saja yang menyimaknya sehingga mereka pun percaya.

 

Kedelapan, mereka adalah orang-orang yang memiliki prasangka buruk (suudzan).

 

Kesembilan, mereka adalah orang yang berpaling dari kebenaran dan memiliki kesombongan. Ketika mereka diminta datang supaya menemui Rasulullah Saw untuk dimintakan ampunan bagi mereka, mereka enggan datang karena rasa sombong. Jika diseru untuk melakukan kebaikan, maka mereka cenderung untuk berpaling, enggan mendengar apalagi mengikui seruan tersebut. Meski seruan itu adalah kebenaran dan kebaikan. Mereka merasa diri merekalah yang paling benar. Sehingga mereka meremehkan dan memandang rendah pihak lain.

 

Pada dua ayat selanjutnya, Allah Swt menambahkan lagi penjelasan mengenai karakter orang-orang munafik. Allah Swt berfirman, Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. Al Munafiqun [63]: 7-8).

 

Kesepuluh, mereka menghalang-halangi atau melarang orang untuk berinfak. Ini seperti terjadi saat mereka melarang orang-orang Anshar untuk memberi bantuan pada Rasulullah Saw dan kaum muhajirin ketika mereka berhijrah ke kota Madinah. Orang-orang munafik ini melakukan tindakan tersebut supaya kaum muhajirin mengalami kelaparan dan putus asa sehingga berpaling dari Rasulullah Saw.

 

Kesebelas, mereka memiliki keinginan untuk menyingkirkan orang-orang beriman. Mereka pun merasa bahwa diri mereka lebih mulia daripada orang-orang yang beriman. Pada zaman Rasulullah Saw, orang-orang munafik bermaksud untuk mengusir Rasulullah Saw dan orang-orang beriman dari kota Madinah karena mereka merasa diri mereka lebih cerdas dan lebih terhormat.

 

Selain di dalam ayat Al Quran, karakteristik atau ciri-ciri orang munafik juga disampaikan melalui hadits. Rasulullah Saw bersabda, “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya” (HR. Bukhari Muslim).

 

Semua karakteristik orang munafik itu tak hanya muncul di masa Rasulullah Saw. Banyak sekali kita temui juga di zaman kita saat ini. Salah satu ciri orang munafik juga adalah lebih sibuk mengurus topeng, cangkang atau kemasan, ketimbang mengurus isi. Ia lebih sibuk berambisi memiliki mobil bagus daripada memiliki hati yang bagus. Ia pun lebih sibuk berdandan diri dengan pakaian yang bagus, daripada menghias diri dengan hati yang bagus. Hal seperti inilah yang membuat hidup kita tidak bahagia, kita lebih sibuk terhadap topeng, cangkang atau kemasan, daripada sibuk terhadap isi.

 

Seperti seorang wanita yang sibuk memperindah bibirnya dengan lipstik yang mahal. Akan tetapi ia membiarkan bibirnya murahan dengan mempergunakannya untuk membicarakan keburukan-keburukan orang lain, bergunjing, mengadudomba bahkan memfitnah. Atau, seperti seorang pria yang sibuk mengumpulkan harta kekayaan, kendaraan mewah dan rumah yang megah. Akan tetapi ia memperoleh semua itu dengan cara yang haram atau dari uang haram.

 

Dari keseluruhan karakter orang-orang munafik, maka kita bisa simpulkan bahwa ciri-ciri kemunafikan itu adalah pembohong, bersumpah bohong untuk keuntungan diri sendiri, menghalangi orang lain masuk Islam, jelek amal, busuk hatinya, penampilan menarik dan manis ucapannya tapi bermaksud jelek, berprasangka buruk, berpaling dari kebenaran dan kebaikan, sombong, melarang orang lain berinfaq, mengusir orang beriman, merasa diri kuat dan terhormat, gemar menginkari janji dan bersikap khianat terhadap amanah.

 

Semoga kita tergolong sebagai orang-orang yang senantiasa berupaya meninggalkan karakteristik kemunafikan yang ada di dalam diri kita dan menjadi diri yang jujur, lurus dan teguh pendirian di dalam kebenaran dan kebaikan

 

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Comments

comments

About AndySyauqi