Home / Ulama / AaGym / Hijrah (Bag.2)
hijrah

Hijrah (Bag.2)

Makna Hijrah

Sudah kita ulas sebelumnya bahwa hijrah adalah berpindah. Dalam sejarah Islam disebutkan bahwasanya Rasulullah Saw dan para sahabat pernah berhijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah (622 M atau tahun ke-15 kenabian). Sebelum hijrah kali ini, terdapat juga dua kali peristiwa hijrah lainnya.

 

Hijrah pertama pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, ke Habasyah atau sekarang Ethiopia. Hijrah ini dilaksanakan oleh sekelompok sahabat yang dipimpin Utsman bin Affan. Hijrah ini dipicu berbagai tekanan orang-orang Quraisy yang diarahkan kepada orang-orang yang lemah. Hijrah ini berlangsung atas perintah Rasulullah Saw.

 

Habasyah atau Ethiopia adalah suatu daerah di ujung Utara Afrika. Daerah yang dipimpin oleh seorang raja yang adil bernama Ashamah An Najasyi. Tidak ada orang yang teraniaya oleh kekuasaan di bawah kepemimpinannya.

 

Adapun hijrah kedua terjadi pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Hijrah ini dilakukan oleh Rasulullah Saw menuju Thaif, yaitu suatu daerah di sebelah tenggara kota Mekkah. Kala itu Rasulullah Saw ditemani oleh salah seorang sahabat beliau yaitu Zaid bin Haritsah.

 

Hijrah kedua ini dilakukan setelah terjadi dua peristiwa besar yang berpengaruh pada diri Rasullah Saw khususnya dan kaum muslim pada umumnya. Yaitu meninggalnya Abu Thalib, paman beliau pada tahun ke-10 kenabian. Abu Thalib adalah sosok yang ikut menjaga da’wah Islam dari gangguan kaum kafir Quraisy.  Kira-kira tiga bulan setelah meninggalnya Abu Thalib, istri Rasulullah, Ummul Mukminin Khadijah Al Kubra meninggal dunia pula. Tepatnya pada bulan Ramadhan pada tahun ke-10 kenabian.

 

Dua peristiwa ini menorehkan duka yang dalam di hati Rasulullah Saw. Kematian Abu Thalib dan Khadijah semakin membuat kaum kafir di kota Mekkah berani untuk menyakiti beliau. Rasulullah Saw menyebutnya sebagai ‘Amul huzni’ atau tahun duka cita. Sebutan yang terkenal di dalam sejarah.

 

Dari deretan peristiwa hijrah ini, ada hal penting yang harus kita garis bawahi. Yaitu bahwa sesungguhnya perpindahan Rasulullah Saw bersama sahabat-sahabatnya itu bukanlah karena alasan takut dan gentar terhadap gangguan kaum kafir Quraisy di kota Mekkah. Sama sekali bukan karena alasan takut dan gentar.

 

Hanya ada satu alasan Rasulullah Saw berhijrah bersama para sahabatnya. Alasan tersebut adalah karena adanya perintah Allah Swt agar beliau melakukan hijrah. Bagi Rasulullah Saw tidak ada yang pantas untuk ditakuti di antara makhluk-makhluk Allah Swt. Bukankah semua orang yang memusuhi beliau adalah sesama manusia yang juga berada di dalam kekuasaan Allah Swt. Rasulullah Saw yakin bahwa tidak ada satupun makhluk yang bisa melukainya bahkan sekedar menyentuhnya tanpa izin Allah Swt. Beliau pun yakin bahwa tidak ada yang bisa mematikan manusia kecuali atas izin dari-Nya.

 

Rasulullah Saw hanya takut kepada Allah Swt. Ketika Allah memerintahkan beliau untuk berhijrah maka beliau pun berhijrah. Ada beberapa hikmah agung dari peristiwa hijrah ini. Diantaranya adalah dimulainya penanggalan Islam, munculnya percontohan sebuah negara Islam, hadirnya konstitusi pertama sebuah negara yaitu Piagam Madinah, momentum persaudaraan yang diwujudkan dalam persatuan Muhajirin dan Anshar, dan hikmah-hikmah lainnya.

 

Sejarah hijrahnya Rasulullah Saw beserta para sahabat dari Mekkah ke Madinah ini sudah sering dibahas. Juga sudah banyak disampaikan di dalam buku-buku sejarah. Lalu, untuk konteks kekinian kita, hijrah seperti apakah yang penting kita lakukan?

Bersambung..

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

 

Comments

comments

About AndySyauqi