Home / Kajian / Aqidah / Dukun, Kenapa Tidak?
Dukun

Dukun, Kenapa Tidak?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du

Untuk mewujudkan keinginan, manusia menempuh beraneka ragam cara, sebagian dari mereka ada yang menempuh metode yang dibenarkan agama, dan adapula dari mereka yang rela menempuh metode apapun untuk mewujudkannya.

Diantara metode haram yang tidak jarang ditempuh adalah dengan memohon bantuan kepada makhluk lain, yaitu jin, melalui perantaraan sihir, perdukunan dan tukang ramal. Mereka berkeyakinan bahwa dengan cara ini, keinginannya dapat segera tercapai. Allah Ta’ala berfirman:

) وَيَوْمَ يِحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الإِنسِ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ الإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِيَ أَجَّلْتَ لَنَا (

“Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpun mereka semua, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (syetan) sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah: kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebagian yang lain, dan kami telah sampai pada hari yang telah Engkau tentukan bagi kami.” (Al An’am 128).

Syeikh Abdurrahman As Sa’dy berkata: “Sebagian dari jin dan manusia saling memanfaatkan seba- gian lainnya. Jin mendapatkan manfaat berupa ketaatan, penyem- bahan, pengagungan dan permohonan pertolongan dari manusia kepadanya. Sedangkan manusia mendapatkan manfaat berupa terwujudnya sebagian dari keinginan dan kepentingan dunianya atas bantuan jin.” (Tafsir As Sa’dy 273).

Pada ayat lain Allah berfirman:

)وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (

“Dan bahwasanya ada beberapa laki-laki diantara manusia yang meminta perlindungan kepada bebe rapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah mereka rasa takut “. (Al Jin 6)

Ulama’ ahli tafsir menyatakan: Dahulu sebagian manusia bila hendak melintas di suatu lembah atau hamparan padang pasir atau yang serupa, mereka berkata: kami berlindung kepada ketua jin penunggu lembah itu dari kejahatan anak buahnya. Tatkala bangsa jin menda patkan perilaku manusia yang demi kian itu, mereka menjadi semakin sombong dan semena-mena. Seba liknya manusia semakin ketakutan kepada mereka. (Tafsir Ibnu Katsir 4/428).

Demikianlah fenomena hubu ngan sebagian manusia dengan syetan melalui perdukunan, tukang ramal dan sihir, yaitu hubungan saling mengun- tungkan. Jin merasa diuntungkan dengan penyembahan, pengagungan dan sesajian manusia untuk mereka. Dan sebaliknya manusia merasa diun- tungkan dengan terwujudnya sebagian dari keinginannya atas bantuan syetan. Dari ayat di atas, jelaslah bahwa tidak mungkin manusia memohon bantuan kepada syetan melainkan setelah ia memberikan imbalannya, yaitu berupa tumbal atau pemujaan kepada mereka.

Bila demikian adanya, mungkin anda akan bertanya: Apakah manusia benar-benar diuntungkan dari hubu-ngan timbal balik ini?

Dari pengkajian terhadap berbagai dalil dari Al Qur’an dan Hadits, serta fenomena yang terjadi di masyarakat, maka kita dapatkan bahwa manusia adalah pihak yang paling merugi dari hubungan ini. Berikut beberapa kerugian yang akan ditanggung oleh manusia dari interaksi dengan jin melalui sihir, perdukunan dan ramalan:

  1. Keimanan manusia akan runtuh, hal ini karena jin atau syetan tidaklah akan melayani manusia, melainkan bila manusia telah menyajikan sesajian, atau tumbal berupa sembelihan, atau berbuat kekufuran atau dengan menghi nakan syari’at agamanya, merubah ayat Al Qur’an dll. Allah Ta’ala telah menceritakan hal ini pada firman-Nya:

)وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ (

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman itu tidak kafir, hanya syetan-syetanlah yang kafir (mengerjakan sihir); mereka mengajarkan sihir kepada manu sia.” (Al Baqarah 102). Dan Rasulullah r juga menegaskan:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ r. رواه أحمد وابن ماجة

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia mempercayai perkataan mereka, maka ia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada Muhammad r.” (riwayat Ahmad dan Ibnu Majah). Ini adalah balasan orang yang percaya kepada dukun atau tukang ramal.

  1. Ibadah sholat manusia tidak diterima oleh Allah. Rasulullah r bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً. رواه مسلم

“Barang siapa yang mendatangi peramal, lalu ia bertanya kepa danya tentang suatu hal,, niscaya tidak akan diterima ibadah sholatnya selama empat puluh hari.” (riwayat Muslim) Ini adalah balasan orang yang bertanya kepada dukun atau tukang ramal, sedangkan ia tidak memperca yainya.

  1. Manusia menjadi semakin lemah, dirundung ketakutan kepada jin dan syetan, hal ini sebagaimana ditegaskan pada ayat 6 surat Al Jin di atas.
  2. Sihir adalah usaha yang diharamkan lagi sia-sia, yang demikian ini dikarenakan rizqi dan segala kejadian di dunia ini telah ditentukan oleh Allah Ta’ala, sehingga sihir tidak mungkin dapat merubah ketentuan takdir Allah. Allah Ta’ala berfirman:

) قَالَ مُوسَى أَتقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءكُمْ أَسِحْرٌ هَـذَا وَلاَ يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ (

“Musa berkata: Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu: sihirkah ini?Padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemena ngan.” (Yunus 77).

     Imam As Syaukani berkata: “Tukang-tukang sihir itu tidak akan berhasil mendapatkan keingi- nannya, tidak juga mendapatkan kebaikan, dan juga tidak dapat terhindar dari petaka.” (Fathul Qadir 3/403). Pada ayat lain Allah berfirman:

)وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ(

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang merugikan mereka dan tidak menguntungkannya” (Al Baqarah 102)

Rasulullah r bersabda:

لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد

حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizqimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan mengambil yang halal dan mening galkan yang haram.” Riwayat Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim.

Ini adalah sebagian dari kerugian yang pasti diderita oleh manusia bila ia berinteraksi dengan jin melalui sihir, perdukunan dan rama- lan.

Bila demikian adanya, maka menjadi jelas mengapa Allah berfir man tentang orang yang mempelajari sihir sebagai berikut:

) وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ (

“Dan mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang mempelajari sihir itu tiada baginya keuntungan di akhirat. Dan sangat buruk apa (sihir) yang dengannya mereka mengga- daikan dirinya, jikalau mereka mengetahui.” (Al Baqarah 102). Sebagaimana jelas pulalah, mengapa sihir, perdukunan dan ramalan diharamkan.

Saudaraku seiman dan seakidah! relakah anda menanggung segala akibat dan dosa sihir di atas, hanya demi mencari sesuatu yang belum tentu berhasil anda peroleh?

Saudaraku! Sebagai penggan- tinya, kobarkanlah iman anda, dan gantungkan harapan anda kepada Allah, Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, niscaya anda akan menemu kan jawaban-Nya:

) أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ (

“Atau siapakah yang memperke- nankan do’a orang yang dalam kesuli tan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menyirnakan kesusa han dan yang menjadikanmu sebagai pemimpin di bumi? Apakah di sisi Allah ada tuhan lain? Sangat sedikit lah engkau mengingat-Nya.” (Yunus 62)

Rasulullah rbersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.

“Do’a salah seorang darimu pasti dikabulkan, asalkan ia tidak terburu-buru; ia berkata: Aku telah berdo’a, akan tetapi belum juga dikabulkan”, (Muttafa\qun’alaih).

Pada akhirnya, semoga melalui uraian singkat ini, telah jelas bagi kita jalan kebenaran dari jalan kesesatan, sehingga kita terhindar dari perangkap syetan terkutuk. Wallahu a’alam bis showab.

 

Ust. Dr Muhammad Arifin Badri

arifinbadri.com

Website ini didukung oleh Muslim Designer, Niaga Berkah dan Jilbab SHAREEFA

Comments

comments

About andysyauqi