Home / Ulama / AaGym / Bagaimana Agar Cinta Allah
allah5

Bagaimana Agar Cinta Allah

1.  Evaluasi diri.

Sering-seringlah melihat ke dalam diri dan bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang lebih banyak diingat dan dipikirkan oleh kita. Belajarlah mengamalkan “ilmu bungkus”. Setiap ingat sesuatu yang bersifat duniawi, segera bungkus ingatan atau pikiran tentangnya dan serahkan kepada Allah Swt. Serahkan dan sandarkan apa yang kita miliki atau apa yang kita ingat-ingat dari urusan duniawi itu kepada Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Memiliki segalanya. Yakinilah bahwa apapun yang kita miliki, apapun hasil kerja keras kita, itu semua adalah pemberian dari-Nya. Itu semua hanyalah titipan-Nya kepada kita.

Aktifitas mengevaluasi diri adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Allah Swt berfirman di dalam Al Quran,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr [59]: 18).

Ibnu Katsir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” adalah bahwa hendaknya kita memeriksa, menilai dan mengevaluasi diri sebelum nanti dievaluasi oleh Allah Swt.

Ayat ini juga mengingatkan kita untuk tiada pernah jemu memeriksa hati kita agar senantiasa terhubung secera kuat kepada Allah Swt. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa manusia amatlah lemah sehingga sangat mudah untuk terkecoh oleh tipu daya syaitan sehingga hati kita berpaling dari Allah kepada hal-hal lain yang bersifat keduniawian.

2.  Latih diri untuk ber-tahanuts.

Tahannuts adalah berdiam diri di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian manusia. Rasulullah Saw pernah melakukannya di gua Hira, sebuah gua kecil di atas Jabal Nur, sekitar 5 km arah utara kota Makkah.  Tahannuts telah menjadi tradisi para nabi atau pencari kebenaran, ketika mereka menghadapi masalah-masalah penting. Tahannuts ini dilakukan untuk lebih mendekat kepada Allah Swt, merasakan kehadiran-Nya dan menyampaikan segala kegelisahan diri kepada-Nya.

Aturlah waktu kita untuk memiliki kesempatan dalam kesendirian dan hanya berdoa kapada Allah Swt. Manfaatkanlah kesunyian malam hari untuk bercerita kepada-Nya tentang apa saja, bisa keluh kesah, bisa juga kegembiraan kita. Karena sesungguhnya hanya Allah tempat kita mengadu dan memohon.

Perbanyak menunaikan shalat malam. Di dalam shalat, panjangkanlah sujud dan berdoalah dengan sungguh-sungguh. Dalam salah stau haditsnya Rasulullah Saw bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya…” Di antaranya adalah, “Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lantas berlinanglah kedua matanya.” (HR. Bukhari Muslim)

3.  Rutinkan membaca Al Quran.

Al Quran berisi petunjuk-petunjuk dari Allah Swt. Sering-seringlah membacanya dan akan lebih baik lagi jika membacanya sembari membaca artinya atau memahami maknanya, karena itu akan jauh lebih berkesan di dalam diri kita. Jika membaca sms dari seseorang yang kita sayangi saja kita merasa senang, semestinya kita jauh lebih senang lagi membaca surat dari Allah Swt.

Coba ukur diri kita sendiri, dalam satu hari bagaimanakah perbandingan antara membaca Al Quran dengan membaca koran, sms, atau berita di internet, manakah yang lebih banyak? Padahal membaca Al Quran itu memiliki keutamaan yang sangat banyak. Diantaranya adalah sebagaimana hadits Rasulullah Saw, Bacalah Al Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim). 

Mungkin ada orang yang malas membaca Al Quran karena rasa jemu yang disebabkan tidak mengerti arti dan maknanya, atau ada juga yang enggan membaca Al Quran karena alasan belum lancar membacanya. Tidak jarang orang yang segan membaca Al Quran karena masih terbata-bata dalam melafalkannya. Padahal dalam haditsnya yang lain, Rasulullah Saw bersabda, Orang yang pandai membaca Al Quran akan ditempatkan bersama kelompok para malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim).

Satu lagi tentang keutamaan membaca Al Quran juga disabdakan oleh Rasulullah Saw,  ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al Quran) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim).

4.  Perbanyak dzikir

Allah Swt berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [13]: 28).

Basahkanlah lisan kita dengan dzikir, dzikir dan dzikir. Apapun aktifitas kita, ketimbang menggunakan lisan untuk membicarakan hal yang sia-sia, akan jauh lebih baik digunakan untuk berdzikir. Pembicaraan sia-sia hanya akan menimbulkan dosa karena bisa terjebak kepada berbicara dusta, sombong atau malah membicarakan keburukan orang lain. Sedangkan berdzikir kepada Allah Swt justru akan menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada-Nya. Berdzikir akan semakin menyemaikan rasa cinta kita kepada-Nya.

Dzikir dengan lisan adalah hal yang ringan untuk dilakukan. Akan tetapi hal itu menimbulkan efek yang luar biasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, tapi berat dalam timbangan (akhhirat) dan disukai oleh Allah yaitu kalimat, “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari).

Jadikanlah dzikir sebagai kebiasaan kita, karena kebiasaan itu akan menjadi akhlak. Biasakanlah merespon setiap kejadian dengan menyebut nama Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki kebiasaan mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat yang sia-sia saat terkejut atau terpesona karena sesuatu peristiwa. Kata-kata atau kalimat-kalimat itu biasanya bersifat celetukan atau spontanitas karena sudah menjadi kebiasaan. Namun, jika kebiasaan itu adalah hal yang sia-sia maka sungguh merugilah kita. Bukankah tidak ada satupun perbuatan dan perkataan melainkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah Swt.

Oleh karenanya, latih dan biasakanlah lisan kita menyebut nama Allah Swt. Jika itu sudah terbiasa, maka latihlah untuk selalu mengucapkannya diiringi dengan pengucapan juga di dalam hati. Hingga akhirnya dzikrullah itu benar-benar menyatu dengan pribadi kita dan mewarnai setiap perilaku kita. Dengan demikian, rasa cinta kita kepada Allah Swt akan tertanam dalam-dalam di dalam hati dan perbuatan. Ketika kita mencintai-Nya meski baru sedikit saja, sungguh Allah akan mencintai kita dengan kadar yang jauh lebih besar.

Di dalam Al Quran Alah Swt berfirman,

فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah [2]: 152).

Saudaraku, sesungguhnya Allah Maha Pencemburu. Allah yang telah menciptakan kita, menciptakan alam dengan seisinya, dan melimpahkan rezeki kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali. Maka, mengapa yang ada di dalam hati dan pikiran kita adalah sesuatu selain-Nya?! Allah yang memberikan sehat, Allah yang menyembuhkan, Allah yang menutupi kekurangan kita, lantas mengapa kita hanya memberikan waktu, ingatan dan pikiran sisa bagi-Nya?!

Cinta kepada Allah sepenuh hati adalah ciri dari kesungguhan iman kita kepada-Nya. Cinta kepada Allah Swt semestinya adalah cinta yang memenuhi hati kita. Cinta kepada Allah adalah cinta yang utama yang kemudian menimbulkan cabang-cabang cinta, seperti cinta kepada orang tua, kepada alam kepada sesama, kepada kaum lemah dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan kita masih diberikan kesempatan untuk selalu memeriksa dan memperbaiki diri agar Allah Swt adalah Dzat yang mendominasi cinta di dalam hati. Amin. Wallahua’lam bishawab.

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Comments

comments

About AndySyauqi