Home / Berita / Adab Muslim terhadap Fenomena Gerhana Matahari
Shalat-Gerhana-

Adab Muslim terhadap Fenomena Gerhana Matahari

DALAM waktu beberapa hari ini, warga Indonesia akan menyaksikan keajaban alam ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala berupa gerhana matahari total (GMT) pada Rabu 9 Maret 2016. Momen tersebut menjadi istimewa bagi Indonesia karena hanya bisa diamati di wilayah Tanah Air.

Diantara tempat yang bisa disaksikan adalah: Palu, Balikpapan, Bangka Belitung, dan area lain di 11 provinsi Nusantara akan dapat menyaksikan gerhana matahari total — saat sang surya diselubungi kegelapan.

Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer. (wikipedia.org)

Seperti diberitakan gerhana.langitselatan.com/ bahwa tanggal 9 maret 2016, seluruh wilayah Indonesia akan dilewati oleh gerhana matahari. Gerhana matahari total terjadi 11 propinsi yakni Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur,  Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Walaupun jalur totalitas tidak melintasi seluruh Indonesia, masyarakat yang berada di luar jalur totalitas masih bisa menikmati tanda kekuasaan Allah yakni gerhana matahari sebagian.

Fenomena alam tersebut mengundang banyak perhatian, hampir seluruh media cetak maupun elektronik sedang ikut meramaikan pemberitaan akan terjadinya gerhana matahari.

Masyarakatpun sepertinya tidak sabar untuk menyaksikan fenomena tersebut. Bahkan beberapa daerah tidak akan menyia-nyiakakan kesempatan langka tersebut. Salah satunya di Pasuruan Jawa Timur akan menggelar nobar di kawasan Kantor Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Desa Watukosek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Peralatan seperti teleskop, Proyektor dan kacamata khusus pun akan siap dibagikan kepada warga. (seperti dilansir http://news.detik.com/berita/3157150)

Mitos dan Ayat Qauniyah

Peristiwa kejadian alama ini sudah disinggung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Di masa jahiliyah, telah berkembang di masyarakat Arab –bahkan masyarakat dunia lainnya—jika Gerhana Matahari terjadi karena  kelahiran atau kematian seseorang. Khurafat tersebut dimentahkan oleh Rasulullah langsung.

Sebagaimana haditsnya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana matahari atau gerhana bulan maka segeralah mengingat Allah, bertakbir, sholat dan bersedekah!” (HR. Bukhari) hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Prof. Dr. Zaghlul, mengatakan bahwa Gerhana Matahari dan bulan adalah merupakan fenomena alam biasa yang berada dibawah kehendak Allah dan bagian dari sunnatullah (lihat Buku Pintar Sains dalam hadits, hal. 125)

Karena itu, sebagai seorang muslim, kita harus meyakini bahwa fenomena ini adalah bagian dari ayat qauniyah Allah yang ditunjukkan kepada manusia agar semakin percaya akan kebesaran-Nya. Jagad raya dan isinya adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.

Bertambah Iman

Gerhana Matahari harus memberi nilai tambah dalam keimanan kita, bukan hanya menyaksikan, nobar dan sebagainya. Namun harus mampu menambah keimanan kita sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Az-Zajaj mengatakan, “Maksudnya, apabila disebutkan tentang kebesaran dan kekuasaan-Nya dan ancaman hukuman yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya maka hati mereka pun merasa takut.” (lihat Zaadul Masir, hal. 540)

Sesuai dengan pemberitaan bahwa Gerhana Matahari terjadi antara pagi-siang (sesuai variasi zona waktu), maka beberapa hal yang bisa kita lakukan:

Pertama, berdzikir, mengingat Allah dan kebesaran-Nya, memantapkan hati seraya memuji kebesaran-Nya dengan mengucapkan Takbir “Allahu Kabar”.

Tentang hal ini para ‘ulama mengatakan bahwa takbir saat gerhana bukan seperti takbiran pada hari raya. Tetapi mengagungkan Allah seraya bertakbir dengan suara lirih atau pelan.

Kedua, mengerjakan shalat Kusuf atau Khusuf (Gerhana). Dianjurkan dilaksanakan secara berjama’ah, dilaksanakan di dalam masjid, tanpa adzan dan iqamat, perempuan juga bisa ikut shalat.

Tatacara pelaksanaan Shalat Gerhana berjumlah dua raka’at, empat kali rukuk (dalam dua raka’at) pendapat ini yang paling kuat yang diambil oleh para ulama (lihat Risalah Shalat, KH. Akhyar Suhada dkk. Hal, 261) dengan berdasarkan hadits Riwata Bukhari dan Muslim dan jumlah sahabat yang meriwayatkan lebih banyak.

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,

أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901)

Semoga fenomena ini bukan ajang untuk selfi, mengukir album dan kesenangan lainnya. Tapi dengan kejadian ini mari kita ajak seluruh keluarga, anak didik di sekolah, pegawai di kantor dan tempat-tempat lainnya untuk bersama-sama takut kepada Allah, berdzikrir, berdo’a, bertakbir, sholat dan bersedekah. Wallahu a’lam. *

Sumber : Hidayatullah.com

Comments

comments

About Siti masitoh